Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Januari 2014

Kumpulan Cerita Singkat #1

Jalan
Hari ini sungguh melelahkan, kerjaan kantor membuatku murka.
Setelah menenangkan diri di coffee shop di seberang kantor, kucuci muka yang mulai selusuh baju kerjaku.
Air tak terasa dingin, ketika kulihat cermin, tak ada bayanganku.
Tubuhku tercerai berai di bahu jalan.

Lampu
Aku meneriaki anakku untuk kesekian kali karena lagi-lagi dia menyalakan lampu semua ruang dan lupa mematikan lagi.
Lampu kembali dimatikan.
Dua menit kemudian lampu kembali menyala.
SMS masuk tepat sebelum aku menegur anakku.
'Ayah, aku sama mama pulang telat.' Kemudian aku terpaku.

Tim SAR
Hari ini aku menyelamatkan 6 orang.
Sepulangku dari TKP rumahku riuh rendah. Ada 22 orang di ruang tamuku. Mereka minta dikuburkan secara layak.

Si Bungsu
Aku sedang menjahit di ruang tengah ketika anak bungsuku lagi-lagi muncul menyeret kepala boneka dan kepalanya minta disambung lagi.

Kasih Sayang Ibu
Aku merengek-rengek, merajuk meminta camilan kesukaanku pada ibu.
Tergopoh-gopoh beliau ke ruang tamu menemui om-om pelanggannya, sebentar kemudian dia datang membawakan usus yang terburai padaku.

Etalase
"Aku suka koleksi patung bagian-bagian tubuh di etalasemu ini, Sayang. Seperti nyata."
"Bukan, Sayang. Ini bagian tubuh wanita-wanita yang pernah tidur denganku." Ucap kekasihku terakhir kali seraya menyecup leher bagian belakangku.

Hari Berat
Masalah bertubi-tubi. Langkahku berat untuk pulang. Gaji hilang, seketika istri meradang. Dasar jambret jalang!
Dan langkahku semakin berat ketika sendiri menyusuri etalase pertokoan, bayangan terpantul. Bayanganku dan seorang nona Belanda di punggungku. Kaki dan gaunnya menjuntai terseret setiap kali aku melangkah.

Sleep Paralysis
Mimpimu tidak lagi indah ketika wanita Jepang yang ada di mimpimu benar-benar muncul di atasmu dengan muka setengah hancur dan rambut menjuntai ketika kamu buka mata.

Rabu, 03 Juli 2013

Lanang

Solo...

Di sini dingin ternyata. Di kota ini tak seharusnya mengenal dingin yang berlebih selama beberapa minggu. Gigiku bergeletuk menggigil. Dan di sini terasa pengap. Untuk ruangan sebesar sebelas kali sebelas meter, dengan sinar menjalar di daun jendela yang melambai terbuka harusnya tak kenal pengap pun juga nalar. Anak rambutku melompat ditabrak angin, tapi dadaku gagap dan seakan gelap.

Di seberang mataku. Sejauh sepuluh meter kulihat lekuk anggun bergaun transparan, tubuhnya cantik wajahnya jelita. Buah dadanya ranum siap dipetik buku jariku. Buah pinggulnya lentik siap menjadi landasan zakarku. Gerai mahkota kepalanya semanis aroma gula-gula kapas, siap menjadi sarang jemariku ketika kureguk habis bibirnya. Ketika dia menunduk, seluruh yang di sini merajuk berharap dikecup. Dia yang bergaun transparan sepenuhnya milikku.

Dia menyingkapkan naik gaun transparannya. Ujung jubahnya menyapu pahanya yang sehalus pualam, menyapu pantat lalu pinggangnya. Jejak kakiku goyah, butuh penyangga baja bagiku agar tak tenggelam di keringatku sendiri dikalapkan birahi.

Tubuhnya, meja sakramen tempat kujatuh dan memujanya. Gerak lekuk dan eluh seakan terasa sampai di tengkuk dan pembuluh. Matanya menyapu selaksa sepi di setiap kedipnya. Jarinya yang nanti membekap mulutnya masih bebas menggerayangi peta tubuhnya sendiri.

Perempuan itu, merayap ke ranjang dengan kaki-kakinya yang jenjang dan nafsunya yang menjulang.

Tidak! Sebentar! Apa itu yang kulihat baru saja? Dia meranjang dengan lelaki yang juga telanjang? Tidak, seharusnya dia menungguku. Aku yang seharusnya menemaninya tidur dengan dada yang bidang. Bukan dengan laki-laki yang tak bersandang.

Aku lelah dan cukup menyerah pada marah. Aku ingin darah lelaki itu diperah oleh tanganku yang tak lagi bisa disanggah. Aku ingin dia mati disaksikan perempuanku yang tak lagi sepi.

Degup ini sepertinya bukan milikku, dia berteriak tak lagi mau dibekap. Kaki ini sepertinya bukan milikku, dia tak bisa diatur oleh kata-kata. Dia seakan berjalan melayang menuju perempuan yang tadi kuceritakan.

Langkah pertamaku adalah suka, kemudian langkah keduaku adalah asa, dan langkah ketigaku adalah racun bisa.

Kuhentikan langkah, kusandingkan dengan gontai. Aku terkagum. Setiap langkahku makin mendekatinya makin terasa dimatikannya. Makin mendekatinya makin disakitinya. Langkahku sakit, dadaku makin sesak berisi pasak, mataku merambang gulana.

Makin mendekati perempuanku, makin kuingin membenci. Makin mendekati perempuanku, makin kuisi penuh perigi caci.

Aku ingin meneriakkan bahwa akulah teman tidurmu, tapi racun bisa di langkah ketigaku tadi telah mencekik dengan pelik dan menyuapiku penuh seracik licik.
Aku kesakitan dan tak bisa meronta.

Dengan susah, dengan niat yang tak lagi bisa diasah, kucoba menjulurkan kepala. Aku ingin melihat siapa lelaki tak tahu malu yang bercinta dengan perempuanku.

Dia terbujur pasrah, seperti nyanyian kardus basah, sedangkan perempuanku menikmati tubuhnya yang pucat tak lagi memerah. Kuamati kaki lelaki itu yang penuh luka sana-sini, ku lihat ke arah atas badannya perlahan dan mataku terhenti pada satu tanda lahir di sisi kiri badan. Tanda lahir itu mengingatku pada seseorang. Mataku mengingat, otakku meracau, dan mulutku meronta. Tanpa sadar kugerayangi sisi tubuhku sebelah kiri, kusingkapkan kemeja warna labu muda, dan tanpa perlu kulihat sisi tubuhku, aku tahu.

Kuamati wajah lelaki telanjang di atas ranjang. Pada detik berikutnya semua otot mukaku menegang dan kurasakan nyawaku meregang.

Tidak, nyawaku sudah meregang tepat di antara ranjang dan perempuanku yang menggelinjang.

Nyawaku dihabisi perempuan skizofrenia sekaligus pengidap necrophilia itu, mayatku diajaknya bercinta dengan garang, dan kini sedikit demi sedikit aku menghilang.

Rabu, 05 Juni 2013

Rumah Petak dan Upeti Langkahan


Solo..

Landra terlihat gelisah. Dia termasuk perempuan yang dikenal sangat pendiam dan tenang, serta terlalu tertutup untuk gelisah. Jika dia gelisah, itu berarti masalahnya tak lagi bisa disepelekan. Dia duduk di ujung ranjang, menggigit-gigit bibir bawahnya, dahinya berkerut, mukanya muak, ingin marah tapi sulit dia ungkapkan. Seperti itu terus sejak satu jam yang lalu.

"Dilangkahi Jindra?" Hanya kata itu yang bisa ia gumamkan di tengah kepanikannya. Jindra adalah adik kembar identiknya.

Seminggu lalu, Jindra mengutarakan tentang keinginannya menikah dengan kekasihnya. Untuk Jindra, menikah belum menjadi prioritas utama karena umurnya baru 24 tahun, dan kariernya sedang menanjak. Tapi tidak dengan kekasihnya yang 8 tahun lebih tua dari dia, Jagad namanya. Keluarga Jagad sudah mulai memojokkan kapan dia akan menikahi Jindra. Lalu terjadi begitu saja, ada keputusan akan ada pernikahan setelah Jindra meminta ijin pada Landra kakaknya yang juga kembarannya.

"Tetap ada pesta langkahan untukmu, Landra. Kamu diijinkan meminta dari Jindra upeti sebagai pengganti langkahan." Kata ibu melirih, tapi Landra tahu ibunya sedikit bersedih.

Tapi hingga kini Landra tak tahu upeti langkahan apa yang dia inginkan. Dia terlalu tertutup untuk menghadiri pesta, apalagi dipestakan. Bilik kamarnya adalah sebaik-baiknya teman baginya. 22jam biasa dia habiskan di sana setiap harinya. Dia tak mau bekerja di perusahaan formal, hanya menjadi seorang penulis seperti ayahnya yang ia inginkan. Karena ia merasa tempat umum membuatnya seperti ditelanjangi, sedangkan jika menjadi penulis dia dengan bebas bisa menelanjangi siapapun dengan caranya sendiri. Lain halnya dengan Jindra adik kembarnya, Jindra mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang dengannya. Ceria, punya banyak teman, serta disukai banyak pria. Jika tanpa perbedaan karakter tersebut, sepertinya hampir mustahil ada yang bisa membedakan mereka, kecuali ibu mereka.

Banyak pihak yang merayu Landra untuk segera menentukan upeti langkahan, karena semakin hari semakin mendekati hari pernikahan Jindra. Banyak pula orang yang menyalahkan Landra, menuduhnya sengaja mengulur waktu agar pernikahan Jindra gagal. Dan semakin merasa terpojok, kebenciannya terhadap semua orang makin memuncak, dua hari berturut-turut Landra mengurung diri di kamar.

Pada hari ke tiga, ketika ibunya mengetuk kamarnya untuk membujuknya makan kesekian kali, Landra membuka pintu dengan wajah pucat dan lingkar hitam di bawah mata.

"Landra tau apa yang Landra inginkan, Bu." Landra menggumam lirih dengan senyum tulus tersungging.
***
"Oke, aku sama mas Jagad menyanggupi permintaan Landra, Bu. Minggu depan aku pastikan bisa mengantar Landra dan kami berlibur beberapa hari di Australi, sebelum dia menetap di sana." Jawab Jindra seraya menggamit lengan Landra dengan sayang, beberapa malam setelah Landra menjawab upeti apa yang dia inginkan sebagai syarat langkahan.

Dari dulu Landra memang menginginkan tinggal di Australia, negara di mana ayahnya meninggal ketika kerja. Di sana ayahnya memiliki sepetak rumah pribadi yang bisa dihuni satu keluarga kecil yang sudah dua tahun ini dibiarkan kosong karena ayah Landra telah meninggal, sedangkan istri dan anak kembarnya tetap di Indonesia. Oleh karena itu, proses pindah Landra ke Australi akan diurus oleh Jindra dan Mas Jagad sebagai upeti langkahan.

"Kamu ikhlas bener to, Ndra?" Tanya ibu kepada Landra. Landra tetap diam mematung seperti biasa. Dia terlalu tertutup.

"Kamu lak yo ikhlas lahir batin, to?" Tanya ibunya sekali lagi. Landra mengangguk singkat.

"Maksud ibu itu, kamu lak ikhlas kalau Mas Jagad nikah sama Jindra adikmu, to? Ikhlas Mas Jagad lebih memilih Jindra, to?" Pertanyaan ibu yang cemas membuat Landra mulai cemas juga, tetapi Landra tetap saja diam. Ibunya adalah satu-satunya orang yang mengetahui banyak hal tentang Landra juga orang seperti apa Landra yang sebenarnya.

Landra tetap tunduk diam tapi tak begitu dengan matanya.

***
Australia..

"Landra, ada baiknya kita menginap di hotel saja, sembari rumah ini direnovasi. Dua tahun dibiarkan kosong, di sini pengap, banyak lampu yang ndak bisa nyala, penghangat air ndak berfungsi, dan debu di sana-sini.” Protes Jindra di sela batuk-batuk kecilnya, sedangkan Landra tetap diam saja. Dia masih tak bergeming, meringkuk di sofa kecil di samping rak buku milik ayahnya. Dibaca bukunya perlahan, di bawah lampu baca yang hampir redup.

“Baru setengah hari kita di sini dan aku mulai ndak tahan. Dadaku sesak dan batukku ndak mau berhenti dari tadi. Kita cari hotel saja dan besuk akan kusewa orang untuk membersihkan dan merenovasi rumah ini. Lagipula di sini jauh dari kota, bagaimana kita akan liburan, jalan-jalan, dan senang-senang jika waktu kita akan habis di jalan nantinya.” Cerocos Jindra tanpa henti.

“Landra…”  Panggil Jindra lirih.

“Landra, aku bicara padamu.” Jindra mulai marah, sedangkan Landra tetap saja mematung.

“Landra Abhista Najmi! Aku bicara sama kamu, mbak!” Teriak Jindra tidak sabar.

Landra berhenti membaca buku, di tutupnya buku yang dipegang dengan gerakan lambat. Rambutnya yang mengurai panjang tetap dibiarkannya menutupi setengah mukanya. Dia mendongah sedikit, memiringkan kepalanya, berkedip dua kali dan menyunggingkan senyum tulus yang pernah dia punya. Berdirilah ia, diletakkannya buku milik ayahnya di sofa, lalu jalan mendekati Jindra.

“Ibumu pasti ndak pernah mengajarkan bagaimana cara berbicara pada seorang kakak. Ibumu pasti juga ndak mengajarkan bahwa ndak boleh mencuri barang milik orang lain. Ya, kan?” Landra mulai berbicara lirih.

“Kamu ngomong apa to, Ndra? Ibuku lak yo ibumu.” Jindra membela diri.

“Kamu bisa diam, ndak? Aku lagi ngomong. Sekali seumur hidup aku ingin bicara sampai tuntas tanpa kamu memotong kalimatku!” Landra mulai tak sabar. Ditamparnya Jindra tepat di pipi sebelah kiri. Tamparannya sangar keras hingga Jindra yang tadinya berdiri terhuyung serong ke samping kanan.

Landra mendekati Jindra yang mulai menangis merintih kesakitan, ditariknyalah rambut panjang Jindra hingga dia mendongak melihat muka kakaknya. 

“Bisa?” Tanya Landra seperti berbisik, dan Jindra tetap diam saja.

“Jawab, Jindra Candrika Najmi!” Teriak Landra tidak sabar. Didorongnya Jindra ke dinding hingga kepalanya terbentur. Diambilnya tiang lampu tembaga sepanjang 60cm di pojok ruangan dan mendekatlah Landra ke arah Jindra. Menangislah Jindra terpojok di dinding, dia tak bisa bangun, apalagi melarikan diri. Hanya menyebut nama Landra dan kata janganlah yang bisa dia lakukan. Ada suara berderak setelahnya, suara benda keras membentur tepat belakang kepala Jindra. Terjadi begitu saja.

***

“Errghh..” Terdengar suara rintihan tertahan dari bibir Jindra yang baru saja sadar. Dia mengerjapkan mata, meneliti ruangan dan mengingat-ingat di mana dia berada. Belakang kepalanya nyeri. Ingin mengusap tetapi tangan dan kaki Jindra terikat, seketika dia sadar bahwa mulutnya juga tersumpal kain. Dia terikat dengan posisi berdiri dan menempel pada dinding tempat ia dipukul Landra. Linu menjadi-jadi. Jindra makin panik ketika dia memikirkan hal-hal yang lebih mengerikan yang bisa dilakukan Landra padanya.

“Kamu sudah bangun, to? Aku nungguin kamu semalaman.” Kata Landra mendekati Jindra dengan muka yang sumringah. 

Landra mengambil benda di atas meja, benda warna tembaga dan tajam. Jindra histeris ketika mengetahui apa yang dibawa Landra ternyata adalah pisau berkarat. Dia ingin teriak tapi suaranya teredam oleh kain di mulutnya.

Lalu berlututlah Landra di bawah kaki Jindra.

“Aku punya satu kabar baik dan satu kabar buruk buat kamu. Kabar buruknya adalah kamu ndak pernah tahu gimana rasanya dicampakkan. Gimana rasanya mencintai orang, dijodohkan sama dia, dan dengan seenaknya direbut oleh ibu sendiri dan dijodohkan padamu hanya karena ibu takut Mas Jagad ndak tahan sama sifatku yang aneh ini. Ibu mengakuimu sebagai orang yang dijodohkan dengan Jagad dan bukan aku yang sebenarnya lebih dulu mengenalnya. Kamu ndak tahu rasanya dianggap gila sama semua orang bahkan ibu dan saudara kembarmu sendiri. Kamu ndak tahu rasanya kehilangan ayah yang selama ini jadi pegangan hidupnya, dan ketika beliau meninggal kamu dan ibumu sibuk dengan warisan sedang jasad ayah hanya berlaku puas dengan dikremasi.” Ucap Landra lirih tapi tanpa henti. Jindra menangis dan menggelengkan kepala kuat-kuat seraya berusaha meronta tapi percuma.

“Tapi tenang, aku juga punya kabar baik untukmu.” Landra mendongak sebentar, menatap Jindra, tersenyum dan menunduk lagi di depan kaki Jindra.

“Ndak usah nangis, ini ndak akan sesakit yang kamu pikirkan. Kabar baiknya adalah, kamu ndak usah repot-repot nglangkahi mbakmu ini, Ndra. Kamu diam saja di sini dan aku yang pergi.” Seketika tumit Jindra terasa nyeri dan perih, ada cairan hangat yang dirasakannya. 

Landra pun juga merasakan tangannya menghangat tersiram cairan segar dari tumit Landra, anyirnya membuat dia makin bersemangat menyayatkan pisau kecilnya di tumit sebelah kanan Jindra, dan kali ini mengelilingi pergelangan kakinya. Lalu perlahan Landra bangkit dan timpuh menyangga badannya dengan lutut. Tinggi badannya sekarang lebih tinggi dari lutut Jindra.

“Ndra, kamu juga ndak perlu repot-repot sungkem sama aku, biar aku yang sungkem ke ibu dan wali ayah nanti. Dengan cara seperti ini pasti kamu ndak lagi bisa sungkem” Kata Landra seraya pelan-pelan menusukkan pisau berkaratnya tepat di atas lutut Jindra dan mencoba mencongkel ke dua tempurungnya.

Teriakan teredam Jindra sangat memilukan, memilukan hati Landra pula, tapi tak digubrisnya. Semakin menjerit dan semakin banyak darah mengalir, semakin semangat pula Landra menyakiti adiknya.

“Ndra. sudah berapa banyak barang yang kamu curi dariku?” Tanya Landra seraya bangkit berdiri. Ditatapnya mata Jindra lekat-lekat, diusapnya air mata Jindra dengan tangan yang penuh dengan darah.

“Banyak! Banyak sekali, tapi ndak akan kuhitung satu-persatu. Emm, Ndra, nadi itu di sebelah kanan, kan?” Senyumnya Landra tersungging setelah menyayatkan pisau pada pergelangan tangan Jindra. Jindra menggeleng lemah, dia sudah mulai tidak kuat lagi menahan sakitnya.

“Oh, bukan ya? Berarti nadi itu sebelah kiri? Ya kan?” Makin dilihatnya wajah Jindra, makin marahlah dia. Dia pun tidak tahu mengapa selalu muak jika melihat wajah Jindra. Mengapa ada wajah yang mirip sempurna dengannya, dan karena itulah banyak kehidupan Landra bisa dengan mudah direnggut oleh Jindra.

“Iya, kan? Kenapa kamu ndak pernah mau jawab? Kenapa kamu ndak pernah sopan sama aku? Kamu persis seperti ibumu!” Teriak Landra tepat di telinga Jindra.

Pisau berkaratnya ditancapkan tepat di nadi sebelah kiri Jindra, dibiarkannya menggantung di sana. Seperti kran air yang sengaja dibuka, darahnya menderas menuruni lengan.

“Aku ndak pantas diberi nama Abhista jika nyatanya aku ndak diinginkan. Kamu pantas mendapat nama Jindra karena kamu memang lirih dan lemah. Tapi sekarang aku akan menjadikan diriku diinginkan dengan caraku sendiri. Hari ini terakhir kali aku akan tidur satu atap denganmu dan esok aku akan pulang. Ndak sulit berpura-pura jadi kamu. Aku tahu ibu akan tahu aku adalah Landra, tapi yang orang tahu Landra tetap ada di rumah ini bersembunyi di dunianya sendiri. Tidurlah, Jindra. Katakan pada ayah, sebentar lagi ibu akan menyusul. Ndak akan lama, hanya menunggu janji pernikahanku tersimpul.” Landra berbisik lirih sekali.

Jumat, 22 Februari 2013

Banyu di Semua Kopi dan Rokokku


Jadi ada berapa orang di sini yang sudah menemukan cinta? Oh, bukan bukan, aku ulang.. Jadi ada berapa orang di sini yang mengaku sudah menemukan cinta?
Satu.. dua.. tiga.. empat.. sebelas.. dua puluh lima.. enam puluh satu..
Ah, yang bener aja.. Cinta itu bukan hal yang bisa disebut setiap orang yang lagi jatuh di fase hanya mengagumi seseorang. Bukan juga hal yang diucapkan dengan gampang seperti, “Hai, aku cinta sama kamu, lho. Kita udah jadian tiga tahun dan aku masih cinta sama kamu.” tapi beberapa hari kemudian putus dan kalimat itu akan diucapkan lagi pada pacar berikutnya.
Cinta itu juga bukan hal yang bisa diukur ketika seseorang dengan berani mengambil keputusan untuk menikahi seseorang yang lain. Yang bisa mempertahankan pernikahan sampai kedua pihak mati aja belum tentu bisa disebut cinta, apalagi buat mereka yang menikahi seseorang tapi nantinya salah satunya selingkuh juga.
Dan buat aku pribadi cinta tidak perlu dipamerkan dengan gamblang hanya untuk buat seluruh dunia tau kalo kita sedang jatuh cinta. Dunia bisa kagum dengan cinta yang sesungguhnya dengan sendirinya, kok.
Aku cinta sama perangkat komputer aku, makanya aku rawat dia. Aku cinta sama Terry dan Glady anjingku, makanya aku pelihara mereka sebaik mungkin. Aku cinta sama mamaku, makanya aku hormati beliau. Tapi aku tau bukan makna cinta yang seperti ini yang kita bahas tadi.
Satu lagi, aku mencintai kopi, rokok, dan beer sekalipun aku tau mereka membunuhku perlahan, tapi umur seseorang siapa yang tau, kan? Seperti sekarang, aku sedang kencan dengan kopi dan rokokku, sedangkan mataku kencan dengan cintanya sendiri, yaitu pemandangan percintaan tepat di depanku. Dan mataku yang tidak bisa diam ini selalu mencari teman untuk memperkuat argumennya ketika melawanku. Iya, dia selalu mengajak otakku untuk membetuk asumsi yang nantinya akan dipercaya oleh semua inderaku. Kali ini otakku berasumsi bahwa apa yang dilihat oleh mataku adalah cinta dengan caranya sendiri.
Dia menatap dia yang lain dengan cara lain dari yang lain. Entahlah, aku bingung dengan permainan kataku, karena cinta memang tidak seharusnya bisa digamblangkan dengan kata-kata. Mungkin juga karena aku (mungkin) tidak kenal siapa mereka sehingga aku sulit menceritakan. Tapi yang aku tau mereka juga tidak saling kenal, tapi salah satunya bisa menceritakan apa itu cinta secara epic.
Hey, kenapa aku memperumit yang sudah sejak awal rumit? Mari kita permudah, sepakati dulu bahwa dia yang satu bernama Banyu dan dia yang lain bernama Janitra. Banyu karena dia punya mata yang dingin sekaligus teduh, mungkin rona mata yang seperti itu biasa muncul ketika seseorang mengalami fase (kemungkinan) jatuh cinta. Dan Janitra, karena wanita ini seperti memiliki derajat yang tinggi di mata Banyu, mampu meruruhkan seorang Banyu serupa air diam, tak bisa dibentuk tapi memaku.
Mereka berdua tidak saling kenal dan dialog yang muncul bukanlah percakapan antar orang yang saling kenal. Selalu Janitra yang memulai percakaan, bukan karena dia memiliki rasa yang sama dengan Banyu, tapi karena Banyu akan menjadi Banyu yang merasa beruntung hanya karena bisa melihat Janitranya singgah sebentar, hanya sekedar membeli satu atau dua kaleng kopi atau menyesap secangkir kopi di café itu dengan sebungkus rokok yang menjadi temannya, maka dari itulah mata Banyu dengan susah payah membekap indra yang lain supaya diam dan beku, cukup matanya yang berbicara. Semua indra mati rasa kecuali mata.
“Kadang Solo terlalu panas buat  orang yang udah hitam dan terbiasa rasain panas kaya aku, ya mas? Masnya sih enak, kerjanya di ruang AC gini.” Janitra selalu memulai basa-basi membosankan, sekalipun tidak membosankan menurut Banyu. Dan Banyu masih saja kelu seperti biasa.
“Tumben seberang café sepi, mas? Yang jualan martabak sama roti bakar pada kemana?” Ini juga salah satu basa-basi paling basi dari Janitra, tapi tidak menurut Banyu.
Setiap gerakan Janitra selalu diikuti oleh mata Banyu. Biji mata Banyu selalu menyenggama setiap gerak Janitra. Pekuk tubuhnya, jenjang kakinya, buah pinggangnya, tanganya, anak-anak rambut yang ikut melompat ketika Janitra bergerak, lehernya, bibirnya, dadanya. Bukan, bukan tatapan kurang ajar, aku selalu menyebutnya mata yang menjadi tameng. Banyu terlalu takut Janitranya disakiti orang. Seolah mata Banyu adalah satu-satunya benda yang bisa melindungi Janitra. Dan keduanya membentuk konstalasi. Dunia Banyu di pelupuknya.
Dan aku masih di sini, di salah satu meja duduk diam menikmati mataku yang berkencan dengan apa yang dipandangnya, bahkan matakupun membentuk konstalasi sendiri dengan mereka. Aku mengamati mereka di sini setiap hari selama beberapa bulan. Dan ya, aku jatuh cinta pada konstalasi yang mataku ciptakan.
Mereka berdua indah. Yang satu mengagumi, lebih tepatnya memuja. Dan yang satunya tidak merasa bahwa dia diistimewakan. Dan mereka berdua juga tidak sadar bahwa aku juga mengistimewakan mereka. Orang yang diistimewakan seseorang akan lebih istimewa jika dia tidak sadar bahwa dia diistimewakan.
Yang membuat Janitra istimewa di mataku adalah, dia merasa tidak sedang diistimewakan seseorang dan dia tetap menjadi dirinya sendiri hingga saat ini. Sedangkan Banyu menjadi istimewa di mataku karena dia mencintai Janitra dengan cara yang tidak egois, dia tidak mau mengungkapkan, bukan karena tidak berani, tapi hanya karena dia merasa sangat bersyukur bisa melihat Janitra setiap hari, tanpa merubah rotasi rutinitas yang ada. Aku tidak menganggap itu cinta bertepuk sebelah tangan, karena memang Banyu memutuskan tidak mengungkapkan cintanya, sampai ketika……
“Hey, kamu ngelamun lagi pasti. Maaf lama, aku bersih-bersih dapur dulu.”
Seluruhku tergagap. Diam. Duniaku seketika disedot oleh duniaku yang kini ada di depan mataku.
“Iya, nggak apa-apa. Pulang yuk.” Aku menggamit lengan lelaki yang menjemputku.
“Banyu, itu di seberang café tumben sepi. Martabak sama roti bakarnya nggak jualan lagi, ya?” Aku masih saja menanyakan basa-basiku paling basi pada Banyu, dan dia masih saja mau mendengarkan dan tersenyum tulus untukku.
Iya, dialah Banyuku dan aku Janitranya, dan aku masih saja merasakan jatuh cinta ketika aku menceritakan awal pertemuan kami. Bayangan itu selalu bermain-main nakal di depan mataku dengan jelas. Iya, yang aku ceritakan tadi adalah kisah jelasku dan banyu. Jelas di mataku dan jelas di mata tameng milik Banyu. Kami jatuh cinta.