Sabtu, 20 Oktober 2012

Musikalisasi Puisi - Narasi by Migie D. Pitaloka

NARASI

Kuurai helai helai narasi kemarin senja. 

Perahu dingin berlayar bisu. 

Halauan masih pada hujan di timur laut. 

Tapi sauh masih urung pada tujuan. 

Bukan sekedar kata yang terbaca bata. 

Isyarat dan kerling itu, sampaikan cerita berkaca. 

Pada ketika kita fasih bertatap lekat, 

semua hilang dan kita pulang.




Minggu, 14 Oktober 2012

Musikalisasi Puisi - Surat yang Tak Pernah Selesai

surat yang tak pernah selesai
kutulis saat pagi serta mabuk yang penuh
berapa kali huruf, kata, jua kalimat muntah
pecah berhamburan di lantai

“ semua berawal dari kelimbungan yang tibatiba memadat di tengah ruang dan lampu neon “

pertemuan di lorong malam itu
kita gontai pada katakata sendiri
ketika percakapan lebih mengabadikan bisu yang kelu
menggigilkan sepi yang paling dirutuki

“ entah apa kita masih saling butuh suara lantang tuk berkelakar “

tentang surat yang tak pernah selesai
hujan selalu saja sempat singgah di sini
tapi apalah arti kecut jika imun nyatanya lebih perkasa
hingga perpisahan bukan lagi sesuatu yang harus dirisaukan

“ dan sekali lagi waktu menunjukkan kedigdayaannya dalam menerka kisah “

surat yang tak pernah selesai
kutulis saat saat pagi serta mabuk yang penuh
biarlah tetap tak selesai
lelap bersama waktu dan kau

By:
LOELOEX, (Facebook: loeloex.azwethinkweiz)
Wonogiri, Juli 2009

Download MP3 Musikalisasi Puisi - Surat yang Tak Pernah Selesai 

Musikalisasi Puisi - Teater Tulang - Kangen (WS. Rendra)

KANGEN - WS. Rendra


Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku

menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

kau tak akan mengerti segala lukaku

kerna cinta telah sembunyikan pisaunya
.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.

Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.

Engkau telah menjadi racun bagi darahku.

Apabila aku dalam kangen dan sepi

itulah berarti

aku tungku tanpa api.

PUISI CAHAYA BULAN - Nicholas Saputra (Ost. GIE)

 
Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan pelan di Lembah Kasih
Lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap
Kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta

Cahaya bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu
Bagaikan letusan berapi
Membangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban kegelisahan hati

Sabtu, 13 Oktober 2012

Dan Kita Bukan Mereka

Saya suka ungu
Saya suka suasana setelah hujan

Kamu suka hitam
Kamu suka malam

Kita suka sore

Kita cara paling sederhana
Sore hari, di rooftop, es krim, rokok, musik
Tanpa kata, mengaitkan tangan yang semakin mengeringat
Tidak ada spekulasi

Saling memandang
Selalu tanpa kata
Membaca mata mengerti makna

Saya suka kamu ada
Saya suka kita ada

Saya senang bahwa
Saya tahu kamu tahu bahwa saya mengenal kamu dan percaya
Dan saya terlampau senang bahwa
Kamu tahu saya tahu bahwa saya dan kamu percaya akan KITA

Terima kasih untuk 2 tahun "KITA"
Dan kita percaya bahwa "KITA"-nya kita (mungkin) masih ada

Sabtu, 01 September 2012

SENJAKU - Dalam Agustus



06082012 - Balkon Kamar Sebelah


08082012 - Alun-alun Kidul Solo - Pasar Sore - Wedangan dan Teman


22082013 - Senja dan Awal Malam - Bulan - Back yard

26082012 - Perjalanan - Menuju Tujuan - Mengejar Waktu

29082012 - Balkon Kamar Sebelah


31082012 - Senja dalam Jendela - Lantai Dua - Lampu Gantung - Siluet dan Piano