Rabu, 05 Juni 2013

Rumah Petak dan Upeti Langkahan


Solo..

Landra terlihat gelisah. Dia termasuk perempuan yang dikenal sangat pendiam dan tenang, serta terlalu tertutup untuk gelisah. Jika dia gelisah, itu berarti masalahnya tak lagi bisa disepelekan. Dia duduk di ujung ranjang, menggigit-gigit bibir bawahnya, dahinya berkerut, mukanya muak, ingin marah tapi sulit dia ungkapkan. Seperti itu terus sejak satu jam yang lalu.

"Dilangkahi Jindra?" Hanya kata itu yang bisa ia gumamkan di tengah kepanikannya. Jindra adalah adik kembar identiknya.

Seminggu lalu, Jindra mengutarakan tentang keinginannya menikah dengan kekasihnya. Untuk Jindra, menikah belum menjadi prioritas utama karena umurnya baru 24 tahun, dan kariernya sedang menanjak. Tapi tidak dengan kekasihnya yang 8 tahun lebih tua dari dia, Jagad namanya. Keluarga Jagad sudah mulai memojokkan kapan dia akan menikahi Jindra. Lalu terjadi begitu saja, ada keputusan akan ada pernikahan setelah Jindra meminta ijin pada Landra kakaknya yang juga kembarannya.

"Tetap ada pesta langkahan untukmu, Landra. Kamu diijinkan meminta dari Jindra upeti sebagai pengganti langkahan." Kata ibu melirih, tapi Landra tahu ibunya sedikit bersedih.

Tapi hingga kini Landra tak tahu upeti langkahan apa yang dia inginkan. Dia terlalu tertutup untuk menghadiri pesta, apalagi dipestakan. Bilik kamarnya adalah sebaik-baiknya teman baginya. 22jam biasa dia habiskan di sana setiap harinya. Dia tak mau bekerja di perusahaan formal, hanya menjadi seorang penulis seperti ayahnya yang ia inginkan. Karena ia merasa tempat umum membuatnya seperti ditelanjangi, sedangkan jika menjadi penulis dia dengan bebas bisa menelanjangi siapapun dengan caranya sendiri. Lain halnya dengan Jindra adik kembarnya, Jindra mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang dengannya. Ceria, punya banyak teman, serta disukai banyak pria. Jika tanpa perbedaan karakter tersebut, sepertinya hampir mustahil ada yang bisa membedakan mereka, kecuali ibu mereka.

Banyak pihak yang merayu Landra untuk segera menentukan upeti langkahan, karena semakin hari semakin mendekati hari pernikahan Jindra. Banyak pula orang yang menyalahkan Landra, menuduhnya sengaja mengulur waktu agar pernikahan Jindra gagal. Dan semakin merasa terpojok, kebenciannya terhadap semua orang makin memuncak, dua hari berturut-turut Landra mengurung diri di kamar.

Pada hari ke tiga, ketika ibunya mengetuk kamarnya untuk membujuknya makan kesekian kali, Landra membuka pintu dengan wajah pucat dan lingkar hitam di bawah mata.

"Landra tau apa yang Landra inginkan, Bu." Landra menggumam lirih dengan senyum tulus tersungging.
***
"Oke, aku sama mas Jagad menyanggupi permintaan Landra, Bu. Minggu depan aku pastikan bisa mengantar Landra dan kami berlibur beberapa hari di Australi, sebelum dia menetap di sana." Jawab Jindra seraya menggamit lengan Landra dengan sayang, beberapa malam setelah Landra menjawab upeti apa yang dia inginkan sebagai syarat langkahan.

Dari dulu Landra memang menginginkan tinggal di Australia, negara di mana ayahnya meninggal ketika kerja. Di sana ayahnya memiliki sepetak rumah pribadi yang bisa dihuni satu keluarga kecil yang sudah dua tahun ini dibiarkan kosong karena ayah Landra telah meninggal, sedangkan istri dan anak kembarnya tetap di Indonesia. Oleh karena itu, proses pindah Landra ke Australi akan diurus oleh Jindra dan Mas Jagad sebagai upeti langkahan.

"Kamu ikhlas bener to, Ndra?" Tanya ibu kepada Landra. Landra tetap diam mematung seperti biasa. Dia terlalu tertutup.

"Kamu lak yo ikhlas lahir batin, to?" Tanya ibunya sekali lagi. Landra mengangguk singkat.

"Maksud ibu itu, kamu lak ikhlas kalau Mas Jagad nikah sama Jindra adikmu, to? Ikhlas Mas Jagad lebih memilih Jindra, to?" Pertanyaan ibu yang cemas membuat Landra mulai cemas juga, tetapi Landra tetap saja diam. Ibunya adalah satu-satunya orang yang mengetahui banyak hal tentang Landra juga orang seperti apa Landra yang sebenarnya.

Landra tetap tunduk diam tapi tak begitu dengan matanya.

***
Australia..

"Landra, ada baiknya kita menginap di hotel saja, sembari rumah ini direnovasi. Dua tahun dibiarkan kosong, di sini pengap, banyak lampu yang ndak bisa nyala, penghangat air ndak berfungsi, dan debu di sana-sini.” Protes Jindra di sela batuk-batuk kecilnya, sedangkan Landra tetap diam saja. Dia masih tak bergeming, meringkuk di sofa kecil di samping rak buku milik ayahnya. Dibaca bukunya perlahan, di bawah lampu baca yang hampir redup.

“Baru setengah hari kita di sini dan aku mulai ndak tahan. Dadaku sesak dan batukku ndak mau berhenti dari tadi. Kita cari hotel saja dan besuk akan kusewa orang untuk membersihkan dan merenovasi rumah ini. Lagipula di sini jauh dari kota, bagaimana kita akan liburan, jalan-jalan, dan senang-senang jika waktu kita akan habis di jalan nantinya.” Cerocos Jindra tanpa henti.

“Landra…”  Panggil Jindra lirih.

“Landra, aku bicara padamu.” Jindra mulai marah, sedangkan Landra tetap saja mematung.

“Landra Abhista Najmi! Aku bicara sama kamu, mbak!” Teriak Jindra tidak sabar.

Landra berhenti membaca buku, di tutupnya buku yang dipegang dengan gerakan lambat. Rambutnya yang mengurai panjang tetap dibiarkannya menutupi setengah mukanya. Dia mendongah sedikit, memiringkan kepalanya, berkedip dua kali dan menyunggingkan senyum tulus yang pernah dia punya. Berdirilah ia, diletakkannya buku milik ayahnya di sofa, lalu jalan mendekati Jindra.

“Ibumu pasti ndak pernah mengajarkan bagaimana cara berbicara pada seorang kakak. Ibumu pasti juga ndak mengajarkan bahwa ndak boleh mencuri barang milik orang lain. Ya, kan?” Landra mulai berbicara lirih.

“Kamu ngomong apa to, Ndra? Ibuku lak yo ibumu.” Jindra membela diri.

“Kamu bisa diam, ndak? Aku lagi ngomong. Sekali seumur hidup aku ingin bicara sampai tuntas tanpa kamu memotong kalimatku!” Landra mulai tak sabar. Ditamparnya Jindra tepat di pipi sebelah kiri. Tamparannya sangar keras hingga Jindra yang tadinya berdiri terhuyung serong ke samping kanan.

Landra mendekati Jindra yang mulai menangis merintih kesakitan, ditariknyalah rambut panjang Jindra hingga dia mendongak melihat muka kakaknya. 

“Bisa?” Tanya Landra seperti berbisik, dan Jindra tetap diam saja.

“Jawab, Jindra Candrika Najmi!” Teriak Landra tidak sabar. Didorongnya Jindra ke dinding hingga kepalanya terbentur. Diambilnya tiang lampu tembaga sepanjang 60cm di pojok ruangan dan mendekatlah Landra ke arah Jindra. Menangislah Jindra terpojok di dinding, dia tak bisa bangun, apalagi melarikan diri. Hanya menyebut nama Landra dan kata janganlah yang bisa dia lakukan. Ada suara berderak setelahnya, suara benda keras membentur tepat belakang kepala Jindra. Terjadi begitu saja.

***

“Errghh..” Terdengar suara rintihan tertahan dari bibir Jindra yang baru saja sadar. Dia mengerjapkan mata, meneliti ruangan dan mengingat-ingat di mana dia berada. Belakang kepalanya nyeri. Ingin mengusap tetapi tangan dan kaki Jindra terikat, seketika dia sadar bahwa mulutnya juga tersumpal kain. Dia terikat dengan posisi berdiri dan menempel pada dinding tempat ia dipukul Landra. Linu menjadi-jadi. Jindra makin panik ketika dia memikirkan hal-hal yang lebih mengerikan yang bisa dilakukan Landra padanya.

“Kamu sudah bangun, to? Aku nungguin kamu semalaman.” Kata Landra mendekati Jindra dengan muka yang sumringah. 

Landra mengambil benda di atas meja, benda warna tembaga dan tajam. Jindra histeris ketika mengetahui apa yang dibawa Landra ternyata adalah pisau berkarat. Dia ingin teriak tapi suaranya teredam oleh kain di mulutnya.

Lalu berlututlah Landra di bawah kaki Jindra.

“Aku punya satu kabar baik dan satu kabar buruk buat kamu. Kabar buruknya adalah kamu ndak pernah tahu gimana rasanya dicampakkan. Gimana rasanya mencintai orang, dijodohkan sama dia, dan dengan seenaknya direbut oleh ibu sendiri dan dijodohkan padamu hanya karena ibu takut Mas Jagad ndak tahan sama sifatku yang aneh ini. Ibu mengakuimu sebagai orang yang dijodohkan dengan Jagad dan bukan aku yang sebenarnya lebih dulu mengenalnya. Kamu ndak tahu rasanya dianggap gila sama semua orang bahkan ibu dan saudara kembarmu sendiri. Kamu ndak tahu rasanya kehilangan ayah yang selama ini jadi pegangan hidupnya, dan ketika beliau meninggal kamu dan ibumu sibuk dengan warisan sedang jasad ayah hanya berlaku puas dengan dikremasi.” Ucap Landra lirih tapi tanpa henti. Jindra menangis dan menggelengkan kepala kuat-kuat seraya berusaha meronta tapi percuma.

“Tapi tenang, aku juga punya kabar baik untukmu.” Landra mendongak sebentar, menatap Jindra, tersenyum dan menunduk lagi di depan kaki Jindra.

“Ndak usah nangis, ini ndak akan sesakit yang kamu pikirkan. Kabar baiknya adalah, kamu ndak usah repot-repot nglangkahi mbakmu ini, Ndra. Kamu diam saja di sini dan aku yang pergi.” Seketika tumit Jindra terasa nyeri dan perih, ada cairan hangat yang dirasakannya. 

Landra pun juga merasakan tangannya menghangat tersiram cairan segar dari tumit Landra, anyirnya membuat dia makin bersemangat menyayatkan pisau kecilnya di tumit sebelah kanan Jindra, dan kali ini mengelilingi pergelangan kakinya. Lalu perlahan Landra bangkit dan timpuh menyangga badannya dengan lutut. Tinggi badannya sekarang lebih tinggi dari lutut Jindra.

“Ndra, kamu juga ndak perlu repot-repot sungkem sama aku, biar aku yang sungkem ke ibu dan wali ayah nanti. Dengan cara seperti ini pasti kamu ndak lagi bisa sungkem” Kata Landra seraya pelan-pelan menusukkan pisau berkaratnya tepat di atas lutut Jindra dan mencoba mencongkel ke dua tempurungnya.

Teriakan teredam Jindra sangat memilukan, memilukan hati Landra pula, tapi tak digubrisnya. Semakin menjerit dan semakin banyak darah mengalir, semakin semangat pula Landra menyakiti adiknya.

“Ndra. sudah berapa banyak barang yang kamu curi dariku?” Tanya Landra seraya bangkit berdiri. Ditatapnya mata Jindra lekat-lekat, diusapnya air mata Jindra dengan tangan yang penuh dengan darah.

“Banyak! Banyak sekali, tapi ndak akan kuhitung satu-persatu. Emm, Ndra, nadi itu di sebelah kanan, kan?” Senyumnya Landra tersungging setelah menyayatkan pisau pada pergelangan tangan Jindra. Jindra menggeleng lemah, dia sudah mulai tidak kuat lagi menahan sakitnya.

“Oh, bukan ya? Berarti nadi itu sebelah kiri? Ya kan?” Makin dilihatnya wajah Jindra, makin marahlah dia. Dia pun tidak tahu mengapa selalu muak jika melihat wajah Jindra. Mengapa ada wajah yang mirip sempurna dengannya, dan karena itulah banyak kehidupan Landra bisa dengan mudah direnggut oleh Jindra.

“Iya, kan? Kenapa kamu ndak pernah mau jawab? Kenapa kamu ndak pernah sopan sama aku? Kamu persis seperti ibumu!” Teriak Landra tepat di telinga Jindra.

Pisau berkaratnya ditancapkan tepat di nadi sebelah kiri Jindra, dibiarkannya menggantung di sana. Seperti kran air yang sengaja dibuka, darahnya menderas menuruni lengan.

“Aku ndak pantas diberi nama Abhista jika nyatanya aku ndak diinginkan. Kamu pantas mendapat nama Jindra karena kamu memang lirih dan lemah. Tapi sekarang aku akan menjadikan diriku diinginkan dengan caraku sendiri. Hari ini terakhir kali aku akan tidur satu atap denganmu dan esok aku akan pulang. Ndak sulit berpura-pura jadi kamu. Aku tahu ibu akan tahu aku adalah Landra, tapi yang orang tahu Landra tetap ada di rumah ini bersembunyi di dunianya sendiri. Tidurlah, Jindra. Katakan pada ayah, sebentar lagi ibu akan menyusul. Ndak akan lama, hanya menunggu janji pernikahanku tersimpul.” Landra berbisik lirih sekali.

Sabtu, 20 April 2013

Jas Terbaik di Hari yang Baik

Dia sudah bekerja sekian tahun dengan tuannya. Tuan kaya raya yang hidup hanya bersama pekerja-pekerjanya. Entahlah, tuannya tak pernah mau cerita kenapa hanya hidup seorang diri tanpa keluarga. Tapi sepertinya dia tahu sesuatu. Tuannya ini lebih tua 20 tahun dari dia. Seperti selisih usia anak dengan ayahnya.
Tugas dia di sini bukanlah sebagai pembantu, atau budak, atau apalah sebutannya. Dia mengepalai pekerja-pekerja di rumahnya yang super megah ini. Dia bersekolah, digaji, dan dia diijinkan bersenang-senang dengan fasilitas yang ada, layaknya seorang anak di rumah ayahnya sendiri.

Dia betah kerja di sini. Ini seperti hidup di rumah sendiri dibanding disebut dengan bekerja. Diapun dekat dengan tuannya. Kadang tuannya mengajaknya belanja untuk kebutuhan pribadi mereka. Setelah itu mereka makan di restoran kelas menengah yang sengaja dia pilih.

***

Dia adalah anak perempuan dari seorang penari di Solo. Ibunya meninggal ketika melahirkan dia. Setidaknya itu cerita yang didengar dari orang-orang sekitar. Mereka, para tetangga dan kerabat di kampung tidak mengenali siapa ayah dia,  kecuali neneknya.

Nenek menceritakan bagaimana ibunya yang polos bisa jatuh cinta pada binatang itu, maksudnya jatuh cinta pada manusia berhati binatang. Entahlah siapa yang bisa disalahkan hingga dia bisa ada di dunia ini. Panitia acara yang menjual ibunya demi uang satu kantong plastik, atau justru ibunya yang terlalu penurut dan bisa dibungkam hanya dengan segenggam uang.

Neneknya menceritakan semua sebelum beliau meninggal, dan setelah itu dia memutuskan untuk mendatangi kota kediaman ayahnya. Entahlah, seperti ada yang menyuruhnya mencari ayahnya. Dan itu membuar dia semakin penasaran.

Setibanya di kota ayahnya, untuk menopang kehidupannya, dia memutuskan menjadi seorang kuli pasar. Dia mengumpulkan uang, sekaligus mencari tahu tentang keberadaan ayahnya. Sebulan setelahnya dia berencana mencari pekerjaan baru, karena tidak mungkin dia akan selamanya tidur di teras ruko di kawasan pasar.

Di balik pasar ini ada perumahan yang dihuni oleh orang-orang kaya. Dia tahu, mungkin mereka tidak akan mau mengangkatnya sebagai pembantu atau buruh cuci. Mereka pasti memilih menggunakan jasa penyalur pembantu yang sudah pasti terpercaya. Tapi ternyata di luar dugaan.

Setiap dia selesai bekerja, dia mendatangi perumahan itu. Dia sengaja memilih satu rumah untuk diamati selama beberapa hari. Suatu hari, hampir saja diketuk pagar rumah itu dengan batu sebesar gengaman ketika seorang bapak-bapak keluar dan langsung mempersilakan masuk. Sekarang, justru dia yang bingung.

Dan, di sinilah dia, menjadi anak kepercayaan tuannya yang dipanggilnya abi.

***

Hari ini tanggal 14 Agustus, seperti biasa abi mengajak dia untuk menyinggahi salah satu makam di salah satu desa di luar kota. Selama dia bekerja di sana, selama itu pula dia selalu diajak untuk berziarah tiap tahunnya di tanggal yang sama. Tapi entah kenapa hari ini dia sengaja untuk tidak mau ikut dengan abi. Ketika abi merajuk, dia lebih merajuk.

Dia memaksa untuk tidak mau ikut dengan abi dan beralasan ingin memberi kejutan untuk abi sepulang dari berziarah di hari ulang tahun dia yang ke 20 tahun ini. Iya, tanggal 14 Agustus itu adalah hari kelahiran dia. Dia dan abi selalu merayakannya sepulang dari berziarah.

Untuk kali ini dia menang, abi memutuskan berziarah sendiri. Dipersiapkannya baju untuk abi. Kemeja putih, jas mewah berwarna hitam, kaos kaki putih, tak lupa sepatu mengkilap termahal yang abi punya. Awalnya abi heran kenapa dia mempersiapkan setelan jas layaknya ke pesta. Dia hanya menjawab itu salah satu rangkaian kejutan yang dia buat di hari itu. Tak lupa dia menemani abi sarapan sebelum berangkat.
***

Hampir setengah jam yang lalu abi berangkat, "Masih ada sepuluh menit." batin dia. Dengan tenang dia mengangkat gagang telepon dan menekan nomer yang sudah dihafalnya di luar kepala.

"Ayah, salam buat ibu jika nanti bertemu. Katakan pada ibu, dendamnya berbuah manis." Ditutupnya telpon itu. Dia tahu ayahnya tak akan sampai ke pusara ibunya di desa itu. Batinnya, "Jas itu cocok di hari kematianmu, Ayah." 

Dia melangkah menuju kamarnya, tersenyum sambil menimang obat tidur berdosis tinggi dan kabel rem mobil abinya.

Jumat, 29 Maret 2013

Puan Milik Tuan


Saya: Bagi puanmu yang ini, tuan masih nama di reguk setiap kopi pagi dan tandas hingga ampasnya, semoga bukan pahit yang dicandu harianku..

Kamu: Ah. Kanda selalu merasa lebih pantas jadi hamba bagi puan, karena puan masih dihamba rinduku setiap fajar menyingsing hingga senja tiba. Semoga tak lekas bosan dan tak lekang bahagia kita walau jarak memisahkan..

Saya: Bagi puanmu yang ini, tuan masih beku salju, duduk diam di satuan perigi, tenang hingga nantinya dilelehkan mentari, saya menanti ada gravitasi dikecupkan di dahi..

Kamu: Hambamu ini tak berjejak dan tak mampu berpijak di kebekuan diri puan yang masih beku hatinya. Hanya secercah asa dan batin yang hangat dari hambamu ini yang selalu hamba mampu tawarkan kepada puanku agar mampu menurunkan puan dari levitasi tinggi nan dingin..

Saya: Bagi puanmu yang ini, tuan masih misteri pagi. Tuan selalu merayuku lewat ilmu, saya tak pernah menahu soal hal baku. Yang saya tahu setiap pagi doaku dan namamu jadi konstalasi yang tak pernah tabu.

Kamu: Bagi hambamu ini, konstelasi bintang selalu jadi tempat menggantung harapan. Tak ada maksud sedikitpun berniat merayu puan melainkan hanya ucap kata kenyataan apa yang hambamu ini rasakan tanpa harus berjibaku. Hanya mampu menyodorkan bahu..

Saya: Bagi puanmu yang ini, tuan terlalu berlebihan. Ini masih siang, tak ada bintang selain matahari yang mengintip kejauhan. Dia mulai cemburu atas kita, teriknya mulai memanas, bahumupun mulai mengeringat. Semoga kisah tak segera menguap.

Kamu: Bagi hambamu ini tak ada yang terlalu berlebihan bagi puan. Bahukupun tak pernah terlalu terbebani walaupun sang matahari cemburu nan menggeliat dengan teriknya. Tak ada yang berlebihan pula di saat siang menjadi malam, pagi menjadi petang. Pun sudah tak ada lagi batasan dari rindu yang sudah terlalu meluap..

Saya: Bagi puanmu yang ini, pujian tuan membuat detak berkali-kali lompat. Ini terik, peluh melesat. Ini masih siang, pertemuan kita masih samar. Seperti biasa, cukuplah ada sapa di satu langit bernama rindu..

Kamu: Bagi hambamu tak ada lagi siang dan malam. Semua sama terasa semakin tersamar dengan segala ketidak pastian dan kegundahan yang membuncah. Seperti biasa takkan habis rasa di dada merindu puan..

Saya: Bagi puanmu yang ini, kiranya tuan tunggu hingga bejana jam pasir menghisap setengah isinya. Saya ingin menikmati terik tanpa lompatan hati yang lelah kegirangan, bawakan kartupos senja untuk saya.

Kamu: Bagi hambamu ini, kiranya hamba menanti hingga bejana jam pasir berhenti hanya untuk kita berdua. Hamba layakkan singgasana tempat berteduh menikmati hangat mentari tanpa harus tersengat teriknya. Akan ku junjung diri puan di semenanjung haru..

Saya: Bagi puanmu yang ini, kiranya tuan tunggu datang senja, biar teriknya dilahap, digantilan ambalana malam, saya menunggu hujan

Kamu; Sudahlah puan.. Tak pantas kau sapa aku laksana tuan.. kiranya senja mau tunggu kedatangan hamba membasuh rindu kita sebelum ia melahap teriknya berkas sinar harapan bersama..

Saya: Bagi puanmu yang ini, pantas menunggu tuan. Tiga menit lalu saya melihat senja ditelan krah kemeja tuan. Anak-anak rambut tuan memberi salam pada datangnya malam..

Kamu: Senja bergulir begitu anggunnya bagaikan helaian rambut panjang puan yang menari tersibak oleh angin nan semilir. Ternyata lenyapnya cahaya matahari tidak menggentarkan seperti yang kupikirkan selama ini dengan kehadiran puan di sisi hamba..

Saya: Bagi puanmu yang ini, senja adalah artefak. Di mana satu kisaran hari disimpannya. Ditautkannya di timur, dan disejarahkannya satuan hari di ujung barat.

Kamu: Bagi hambamu ini, senja adalah sejarah kelam. Di mana satu kisah masa lalu tersimpan dalam kegelapan. Ditautkannya dengan masa kini dan masa depan. Kelam ini pun akan dilewatkan oleh pancaran fajar masa kini yang segera menyongsong..

Saya: Bagi puanmu yang ini tau, tuan selalu menggumam kesal pada senja, tersedak kenangan-kenangan berat, dan mencoba mereguk menit-menit menebas dahaga. Duduklah di sini, gigirkan elegi, lihat peringai jingganya.

Kamu: Bagi hambamu ini, Puan selalu mengujarkan kesan yang berarti menikmati arus hidup tanpa harus menjadi pribadi tertutup.. Dahaga hambamu pun terpuaskan walau hanya duduk terdiam di sisi puan menikmati senja yang beranjak pergi..

Saya: Bagi puanmu yang ini tau jika tuan tersakiti, semesta menghukumku. Malam datangnya malu-malu, sepi datang tanpa ragu. Jangan dulu tiup sangkakala, berikan lebih lagi demi malan..

Kamu: Bagi hambamu yang tak usai tersakiti ini, merasa karma menghukum hamba. Malam datang tanpa ragu lagi, sepinya bahkan menusuk ke ulu hati. Jangan tunda kedatangan gelapmu, biarkan hambamu menyembunyikan cacat hamba di balik bayang puanku yang bahkan lebih terang dari rembulan wungu..

Saya: Bagi puanmu yang ini, ungu adalah cantik, mengingatkan masa-masa ruam, memar hati dirajam sakit, dan bayang bawah mata ketika kelopak terjaga untuk sesuatu yang kusebut kecewa..

Kamu: Bagi hambamu yang sudah terpuaskan dengan segala kecewa ini.. Tak lagi merana disaat berada dalam peluk hangat sanubari hati puan.. Ketika kelopak terjaga masih ada secercah harapan dalam angan nan berkesan hanyut dalam lamunan buaian bayangan puan di terpa sinar rembulan membelah dirgantara.. Ternyata masih ada asa..

Saya: Bagi puanmu yang ini, perangaimu tak lagi kisah lebur yang menghambur. Tak lagi amoniak di sesaknya paru-paru yang sedari awal sudah menjadi abu di tangan masa lalu. Semoga. Di manakah malam?,

Kamu: Bagi hambamu yang ini, senarai kata katamu selalu jadi penghibur tak lagi sekedar kalimat kabur. Harum mewangi menanti hari, mengisi sukma di sesaknya hati nan rapuh ini. Malam kan usai, fajar pun akan menyingsing lagi di ufuk harapan.. Apa lagi yang kau nantikan?

Saya: Bagi puanmu yang ini, dengung menghambur, selaksa sepi bersiap terbaur. Atas nama segala rentan, semoga bukan tuan yang akan meninggalkan.

Kamis, 07 Maret 2013

Dialog Puisi: Kabar Rindu dari Angin


Aku        : Angin yang mengabarkan rindu. Datangnya samar-samar, diporak-porandakannya seluruhku yang berkiblat kamu.

Kamu    : Angin yang mengabarkan rindu. Di antara padi yang dirungrung debu. Aku adalah padimu, tempat awalmu melahap kesedihanku.

Aku        : Angin yang mengabarkan rindu. Datang dan memainkan anak rambut. Kau tahu? Hatiku yang riuh menunggu lingkar lenganmu timpuh dengan tubuh.

Kamu    : Angin yang mengabarkan rindu. Sempurnalah aku menunggu. Diantara pelukmu yang menggambarkan sajak-sajak menderu.

Aku        : Angin yang mengabarkan rindu. Ijinkan aku pecah dan terburai di satuan nafasmu. Seluruhmu kerinduanku di pelupuk hutan perdu.

Kamu    : Angin yang mengabarkan rindu. Untukmu aku berlarian menapaki durimu. Luka menganga adalah caraku mencintaimu, tanpa meragu.

Aku        : Angin yang mengabarkan rindu. Malam ini di luar minus sepuluh, untukmu waktu tak bergerak. Kamu memikatku di sulur hangat retinamu.

Kamu    : Angin yang mengabarkan rindu. Surat yang kemarin masihkah di kamu? Di pelupuk mata tempatku tak berhenti menatap sayumu.

Aku        : Angin yang mengabarkan rindu. Surat? Surat yang tak pernah selesai?  Perkara mengutarakan rindu kita selalu gagap makna dan hilang kata.

Kamu    : Angin yang mengabarkan rindu. Tentang surat itu adalah seutas harapku padamu, mengenai rindu kita yang menyemu lagi menyata.

Aku        : Angin yang mengabarkan rindu. Rindu yang padamu adalah upeti, upaya menawar jarak sudi beringsut dan merebahkanku di bibir yang ingin ku pagut.

Kamu    : Angin yang mengabarkan rindu. Tentang pagutanmu adalah lambang rindu yang mulai meledak riuh, dari nafas tak beratur utuh.

Aku        : Angin yang mengabarkan rindu. Hal merindukanmu biar aku diracuni congkaknya waktu. Jika aku jadi budaknya, semoga dia mau menghentikan untukmu.

Kamu    : Angin yang mengabarkan rindu. Sampai jarak tak begitu menyetuju, aku siap dihujani pilu ketika pagutanmu hanyalah masa lalu.

Aku        : Angin yang mengabarkan rindu. Datang menjelma mimpi buruk. Tersaruk di atas carut-marut kenangan dan kamu coba sembuhkan. Kamu dan bukan masa lalu.

Kamu    : Angin yang mengabarkan rindu. Pada ufukmu, kita adalah bagian dari bumi yang menjauh dari awan, bersamaan menuju luar angkasa.

Aku        : Angin yang mengabarkan rindu. Kau dan angkasa merayuku. Matamu orbitnya, pelukmulah galaksi. Lebih dekat dari kejauhan koordinatmu.

Kamu    : Angin yang mengabarkan rindu. Kamu dan lautan meledak di angkasaku, menari tanpa gravitasi lalu melayang menuju orbit ini.

Aku        : Angin yang mengabarkan rindu. Hujan kusuruh datang cepat-cepat, agar rindu yang kutitipkan tetap hangat ketika sampai di pelukmu yang tepat.

Kamu    : Angin yang mengabarkan rindu. Berhembuslah menujunya. Menuju tempatku bercerita, tepat dikala senja dalam barisan prosa.

Aku        : Angin yang mengabarkan rindu. Kamulah tenang air, itulah sebab kukaitkan batu di kaki dan biarkan tubuhku tenggelam menemuiku.

Kamu    : Angin yang mengabarkan rindu. Kamulah awan yang berlari-lari. Aku menujunya dengan satu harap agar bisa menggapainya, lembut.

Aku        : Angin yang mengabarkan rindu. Kamu adalah nafas yang membuat hujan menjadi bernyawa dan rindu tak hanya burai kata-kata.

Kamu    : Angin yang mengabarkan rindu. Tempatmu adalah aku. Balon udara yang menggembung karena kumpulan rindumu, melayang. Menujumu.

Aku        : Angin yang mengabarkan rindu. Kitalah kota-kota, rindulah lampunya dan kisahlah jalannya. Aku tahu ada jurang, tapi aku yakin kamu juangnya.

Kamu    : Angin yang mengabarkan rindu. Mungkin ini terakhir aku menulis untukmu, sebagai tanda kamu adalah ujung pencatianku. Rindu.



[dialog puisi saya dan @diptaWang]

Sabtu, 02 Maret 2013

Cinta itu [mem]Buta[kan]



Baca sekali lagi judulnya! Klasik? Cengoh? Cheesy? Kesannya bego? Tapi untuk sebagian orang, kalimat itu adalah hal yang sudah paten, bahkan mungkin pernah kita alami.
Gue bakal share beberapa kasus gue dan temen-temen yang sering curhat ke gue, gimana rasanya terhipnotis sama cinta, tapi kali ini dalam konteks negatif, ya.
Eh, tapi kita garis bawahi dulu, ini bukan semata-mata buka aib seseorang, tapi kita sama-sama share biar kita tahu batas seperti apa yang masih bisa dikatakan hubungan yang sehat dan mana yang cuma bisa bikin capek para pelakunya kalo dipaksa buat bertahan.
Mostly, beberapa poin yang bakal gue bahas ini cewek yang jadi korban, tapi nggak sedikit juga cowok yang jadi korban.
Gini, nih analoginya. Mungkin karena cewek itu perasa dan cowok lebih pake logika, jadi cowok masih bisa berlogika hubungan yang sekiranya nggak masuk akal dan mustahil dipertahankan bakal mereka lepaskan. Sedangkan cewek lebih pake perasaan, sebenarnya mereka tahu kalo apa yang mereka lakuin nggak masuk akal, tapi mereka lebih memilih buat pertahanin karena alasan nggak tega, masih sayang, masih kuat untuk pertahanin, dan segudang alasan (yang mungkin) bodoh mengenai perasaan.
Jadi di sini kesannya cowok nggak segan-segan buat ninggalin, sedangkan cewek yang selalu usaha lebih berat dan endingnya cewek yang jadi korban perasaan. Tapi in my humble opinion, mereka sendirilah yang mengorbankan perasaan mereka, karena mereka bingung mau pilih perasaan atau logika yang dikorbankan.
Mulai bingung? Sama. Hahahaha…

Kita bahas langsung aja poin-poin yang bisa masuk ke kategori ‘Cinta itu [mem]Buta[kan]’, cekidot:
1.      Pertahanin Pacar yang Selingkuh
Temen gue sebut aja Nadya, dia punya pacar yang sebut aja namanya Griwo, panggilannya Gio (baca: Jio) biar 94oL g3t0h. Si Nadya ini baiknya nggak ketulungan, dia percaya banget sama pacarnya. Tiap Gio ketangkep basah selingkuh, Gio selalu berkilah kalo cewek yang diajak jalan itu temen sepupunya, atau tetangganya yang minta anter, atau temen kampusnya, atau apalah, dan Nadya selalu percaya. Itu si Nadya baik atau bego, yak?
Sampai suatu ketika gue dan Nadya liat Gio ciuman sama cewek lain. And you know what? Yup, si Nadya tetep maafin dan kasih kesempatan lagi, lagi, dan lagi. Ketika gue nanya kenapa, Nadya cuma bilang, “Karena aku sayang banget sama dia, Ta. Kalo cuma dengan cara ini aku bisa bikin dia tetep di tanganku sampe kita nikah, aku nggak apa-apa, kok.”
See? Liat cara kerja cinta yang salah di sini? Sebel nggak bacanya? Gue nih yang tahu persis masalahnya, pengen banget nabokin muka si Gio pake parutan kelapa.

2.      Lepas Keperawanan
Hayolo, klise seklise-klisenya. Pasti udah pada tahu, dipoin ini ada kalimat, “Buktiin kalo kamu beneran sayang sama aku.” atau kalimat, “Itu bukti kalo kamu beneran mau aku pertahanin selamanya, aku janji nggak akan tinggalin kamu, yank.” Mostly sih karena cewek takut ditinggalin, terlalu sayang, takut cowoknya marah, atau nggak bisa nolak, jadi cewek dengan gampangnya lepasin keperawanan hanya dengan embel-embel kalimat di atas, bukan karena sama-sama mau atau punya alasan lain buat lepasin keperawanan, kalo itu udah jadi pilihan lo sendiri.
C’mon, girls. Kalo nggak mau diinjak-injak tolong juga lo bisa tegas dan jaga diri. Lo tau kan, kemungkinan kalian putus itu masih ada. Dan masa depan lo masih terbentang luas banget, bukan cuma sekedar kasih keperawanan ke pacar dan bisa dipastiin kalian sehidup semati.

3.      Pacar Kasar
Hey, you know what, gue pernah dalam keadaan ini. Lo kaget? Sama, gue juga. Gue yang tomboy, tegas, bisa bela diri, tapi bisa diem aja pas mantan gue pukulin gue di depan temen-temen dia pula. Gue bego? Waktu itu mungkin iya, karena gue nggak ngelawan, padahal temen-temen dia sampe pada kena pukul buat lindungin gue. Tapi, saat itu gue punya maksud kenapa gue diem. Gue mikir kalo gue ngelawan, gue sama biadabnya kaya dia. Kalo gue teriak atau marah dia bakal makin marah dan lingkaran setan ini nggak akan selesai. Gue sengaja diem dan biar temen dia yang ambil alih buat tenangin dia.
Setelah dia melunak, kita balikan sayang-sayangan lagi? NO!! Gue langsung minta putus saat itu juga, dia minta maaf dan nggak mau diputusin, tapi aku tetep bandel minta putus, bahkan aku ngancem, kalo dia maksa, aku bakal laporin ke polisi. See? Ternyata gue masih pake logika, Saudara-saudara. Enak aja maen tebas, emangnya gue cewek kece apaan. Hih!
Ok, class.. Kalo pacar lo, yang notabenenya orang asing di luar keluarga lo aja berani main tangan sama lo, gimana nanti kalo kalian udah nikah? I’ll tell you something. Mereka (para tukang pukul yang ber-nick name pacar) kalo berani pukulin lo, itu berarti dia nggak menghargai lo. Dan kalo lo tetep pertahanin dia apalagi dengan alasan suatu saat dia bakal berubah, itu berarti lo juga nggak bisa hargain diri lo sendiri, ya kalo gitu jangan berharap pacar lo bakalan bisa berubah buat pensiun jadi tukang pukul. Lingkaran setan itu lo sendiri yang ciptain.

4.      Pilih Pacar dari pada Keluarga
Oh, c’mon.. Lo lahir dari batu? Abis dilahirin lo langsung bisa cari duit? Nggak kan? Ortu lo nggak minta lo ganti semua harta yang pernah dikasih ke lo, tapi kewajiban lo penuhin dulu sebelum lo petakilan perjuangin cinta lo yang nggak direstuin ortu sampe dibela-belain keluar dari rumah, hidup berdua sama pacar lo kaya lo udah yang paling jagoan aja.
Ortu lo nggak setuju lo pacaran sama seseorang pasti ada alesannya, jangan sampe cuma gara-gara cinta lo yang masih diragukan kejelasannya, hubungan lo sama ortu jadi renggang. Coba deh lo ngobrol sama ortu lo, Tanya baik-baik apa yang salah sama pacar lo, sampe ortu lo nggak setuju. Jangan-jangan ortu lo yang salah penilaian, dari situ lo bisa jelasin gimana pacar lo yang sebenernya. Ya kalo ternyata ortu lo yang bener, lo harusnya bisa mikir berkali-kali pake point of view yang lain, bener nggak pacar lo layak diperjuangin.
Nggak banget deh kalo ada orang pacaran, umur masih bisa dihitung pake jari, buang ingus sama nyeberang jalan aja belom bisa (oh, itu gue) tapi pikirannya udah pengen sehidup semati kalo perlu kawin lari kalo nggak dapet restu.

5.      Pacar = Pengaruh Buruk
Perlu dijabarin juga nih? Dih, payah deh kalian. *dirajam*
Gue akuin, gue pernah di fase ini juga, bohong sama nyokap biar bisa ketemu pacar, pulang telat gara-gara pacarannya kurang lama. Karena dari awal gue nggak dapet restu, gue backstreet sama mantan gue. Buat bisa ketemu dia, gie harus bohong lagi buat nutupin kebohongan gue sebelumnya.
Atau yang dulunya pacaran bisa dewasa, bisa bertanggung jawab, bisa jalanin pacaran sehat, karena satu dan lain hal harus putus. Terus jadian sama cewek yang nuntut banyak hal dari dia, kelakuan dia jadi childish, dia berubah drastis ke arah yang buruk, tapi tetep bandel pertahanin, bukannya itu cari masalah yang lebih kompleks?
Padahal kalo memang pacar yang baik itu nggak akan kasih pengaruh buruk ke lo. Yang tadinya nggak doyan ngerokok jadi ngerokok. Yang tadinya nggak doyan pulang malem, sekarang tetep nggak doyan pulang malem, tapi malah pulang pagi. Yang tadinya nggak pernah bantah ortu, tapi jadi doyan bantah ortu.
Udah jelas sih sebenernya, buat apa pertahanin orang yang jadi bad influence buat lo. Mau alesan pake kalimat apa? “Dia aslinya baik banget, kok. Nakalnya pas nggak sama gue.” atau “Dia emang brengsek, tapi sayangnya tulus banget sama aku, jagain aku terus.”
Coba deh buka mata dan pake logika, lo tahu kok lo harus berbuat apa.

Itulah beberapa poin cinta yang diartikan salah. Sekali lagi, bukan cewek aja kok yang jadi korban, mungkin karena memang cowoknya sayang beneran sama ceweknua, dia justru tinggalin ceweknya duluan biar nggak terjerumus di masalah yang lebih rumit. So, jangan underestimate para cowok yang ninggalin cewek-cewek.
Oh iya, satu lagi. Kalo memang kasus lo beneran nyakitin hati lo, lo berhak kok nggak nganggep mantan lo itu pernah ada. Karena, kadang memang ada mantan yang seharusnya tidak layak untuk disebut mantan. Tapi jangan lupa, karena mantan-mantan yang nggak layak itu lah yang sebenernya jadi guru buat kita. Kita jadi lebih dewasa dan tau seperti apa hubungan yang seharusnya itu.